Sunday, September 9, 2012

Bi Irah Yang Montok

Perjalanan rahasiaku di balik keluguanku di mata umum membawa aku pada kisah 20-an tahun yang lalu. Seperti biasa kebiasaanku mengintip wanita adalah kebiasaan buruk yang selalu harus berujung dengan bagaimana aku bisa memiliki tubuh wanita itu.
Saat aku menganjak remaja aku tinggal di sebuah desa yang dilalui jalur transportasi jalan raya alternatif kalau mudik. Di seberang rumahku terdapat keluarga yang salah satu anggotanya adalah janda beranak satu. Bi Irah namanya. Kenapa saya selalu memanggil Bibi, karena kalau di kota itu setara dengan Tante ya. Cuman biar ada rasa desanya, saya panggil Bi Irah, walaupun secara urutan kekeluargaan saya seharusnya memanggil uwak. Bi Irah bertubuh tinggi montok, kulit sawo matang, dengna payudara yang besar padat dan pinggul yang montok. Parasnya lumayan manis, walaupun hidungnya relatif pesek, tapi bagiku dia memiki sex appeal yang tinggi. Dia banyak hadir dalam mimpi-mimpi basahku. Dia yang selalu aku perhatikan saat keluar dan pulang dari  dan ke rumahnya untuk ke pemandian umum, sekali lagi pemandian umum, hanya saja kali ini tidaklah berupa sumur dan bak mandi, melainkan sebuah kolam sedang di belakang surau.
Pendek cerita, suatu ketika di pagi buta aku melihat Bi Irah keluar dari rumahnya menuju ke kolam pemandian. Seketika niatku aku wujudkan, aku menyelinap keluar rumah dan bergegas mendekat kolam tersebut, Kulihat sekeliling, aman.
Bi Irah mengenakan kaos ketat yang membalut payudara montoknya. Sedangkan bagian bawahnya sudah mengenakan handuk,mungkin dia sudah membuka celana atau roknya dari mudah, untuk dicuci mungkin.
Aku datang lebih dahulu dan bersembunyi di balik pohon berukuran sedang. Suasana temaram cukup membuatku tidak terlihat, sementara di daerah pemandian cukup bercahaya sehingga aku dengan jelas dapat melihat sepak terjang Bi Irah.
Bi Irah membuka kausnya, dan kini hanya mengenakan penutup dada yang tidak terlalu dapat mewadahi kedua bukit kembarnya. Setelah kaus, handuk yang meutupi bagian bawah segera dilepas sambil langsung masuk ke kolam. Handuknya ditaruh di pinggir. Oya, saat itu kemaluanku sudah menegang tak karuan.
Kemudian di dalam air, Bi Irah melepas celana dalamnya, jongkok dan melapas BH-nya. Aku memperhatikan.
Mulailah Bi Irah mandi, menggosok sekujur tubuhnya dengan sabun, keramas, dan lain sebagainya. Merasa tidak ada yang melihat sesekali Bi Irah muncul sehingga pepayanya tampak.
Aku tak kuat lagi. Posisi Bi Irah membelakangi aku, sehingga saat itulah aku dapat mengendap-endap ke pinggir kolam, melepas pakaianku, segra menceburkan diri ke sisi kolam yang jarak 5 meteran dari posisi Bi Irah. Bi Irah sempat terperanjat dan membalikkan badan melihat apa yang terjadi, tapi karena aku segera menyelam, dia tidak dapat melihatku. Aku menahan nafas menyusuri dinding kolam sambil menyelam. Bi Irah kembali mandi. Aku mulai mendekat, dan jarakku kini hanya sekitar dua meter. Sesekali kuhirup udara tapi segera menyelam kembali. Dari jarak dua meter itulah aku segera menyelam dan meluncur menuju arah tubuh Bi Irah. Dari dekat tampak tubuhnya utuh, dan aku segera menubruk.
Sontak Bi Irah kaget, tubuhnya limbung dan jatuh ke air. Aku peluk tubuhnya. Betapa hangat tubuh itu. Bi Irah menjerit tapi keburu aku sumpla mulutnya dengan mulutku. Lalu wajah kami muncul ke permukaan. Bi Irah meronta tapi segera berhenti lalu menatapku heran.
"Tam, apa yang kamu lakukan?"
Aku tertunduk bercampur aduk berbagai perasaan, antara malu, deg degan, dan sebagainya. Bayangkan aku berhadapan dengan wanita montok yang sedang telanjang. Akupun sama-sama telanjang. Dan aku yakin dalam satu jaman tidak akan ada orang yang segera datang ke sana.
"Maaf Bi, aku ga tahan ..." jawabku sambil mereka alasan ...
"Tak tahan apa?" Bi Irah masih menatapku sambil kemudian dia tersadar dan segera merendamkan payudaranya ke dalam air.
" .. eee .. anu Bi, saya sering membayangkan bisa berhubungan dengan Bibi, dan kali ini saya sudah sampai puncaknya,. Saya tak kuta lagi Bi." jawab saya mencoba memantapkan diri.
"Emang saya wanita apaan?" Bi Irah memalingkan muka, "Sudahlah Tam, kamu pergi ya" pinta Bi Irah. Aku tahu Bi Irah mungkin tersonggung, tapi dia masih bisa menahan diri, dan berkata lembut, karena aku masih dari keluargha terhormat selama ini. Mungkin dia berharap aku bisa segera mengurungkan niat setelah dia tidak marah-marah.
Aku kepalang basah, kepalang malu, tapi tidak mungkin memaksa. Jika dia tidak mau, aku harus mundur, daripada teriak kencang dan aku digebukin warga sekampung.Aku masih rasional dan membayangkan betapa malunya aku. Jadi yang kuharapkan adalah keajaiban, Bi Irah mau mengikuti kemauanku.
"Bi, saya minta maaf, tapi sekali ini ja Bi. Itupun jika Bibi tidak keberatan. Jika keberatan, saya minta maaf, dan saya bisa seger apergi. Tapi sungguh Bi, Bibi selalu terbayang siang malam dalam mimpi maupun lamunan saya.."
"Hmmm, gimana ya Tam," Bi Irah kok tampak bingung. Ga tau kenapa ya. Apakah dia mempertimabngkan keinginanku? MEmang untuk seorang janda, berhubungan dengan siapapun tidak akan apa-apa rasanya, beda dengan perawan yang akan jadi aib.
"Kenapa Bibi Tam?" Bi Irah sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Pokoknya saya mau Bi Irah. Ya Bi?" tatap saya mulai berani. Sementara darah mulai mengalir kembali
"Baiklah Tam, bibi nurut aja. Entah kenapa Bibi ngga bisa menolak. Tapi apakah yakin mau di sini, di kolam ini?"
"Emang kenapa Bi? Ini masih pagi banget, orang-orang baru akan datang sejaman lagi"
"Ya udah ke sinilah Tam" tangan Bi Irah terbuka. Aku mendekat, dan terjadilah apa yang aku idamkan selama ini. Tanpa perlawanan, dengan suka rela (yang mungkin dipaksakan pada awalnya). Tapi itulah rejeki, tak pernah ada orang bisa merencanakan ataupun menolaknya.
---
Aku melumat bibir Bi Irah Lidahku masuk menelisik lorong-lorong rongga mulutnya. Memberikan sensasi membubung yang selalu membawaku ke surga dunia, walaupun mungkin akan berakibat neraka akhirat? Semoga ada kesempatan bertaubat ya.
Seperti biasa, dari adu mulut, berlanjut ke remasan di payudara yang besar itu. Kenyal nian. Sangat kenyal. Kudekap Bi Irah, sangat hangat di sela dinginnya air kolam. Jengkerikk dan kodok sesekli menemani kami dengan suara khasnya. Mungkin mereka mengutuk perbuatanku dan Bi Irah. Dua insan yang tak kuat menahan hawa nafsu ini.
Tanganku meramas pinggul, Ya ampun montoknya pinggul itu.
"Tam, yuk Tam cepet masukin ya" suara Bi Irah parau setelah cumbuan cukup lama.
"Baiklah Bi" lalu aku menurunkan jongkookku, naik dan mencoba memasukkan batang kemaluanki ke dalam bibir vaginanya. Tidak mudah melakukannya di air, tapi saat dimasukkan iturasa yang berbeda terasa. Beberapa tusukan aku buat, membuat Bi Irah menggelinjang. Penisku serasa dicngkeram . Selanjutnya kami keluar adri kolm. Bi Irah duduk di pinggir kolam. Aku memasukkan kembali batang penisku dengan posisi Bi Irah duduk. Samapi beberap atusukan, Bi Irah tampak merem melek. Payudaranya mengencang. Kuisap kiri kanan bergantian membutnya semakin liar.
Bi Irah kemudian telentang di tumpukan pakaian yang rencananya akan dicuci. Aku kembali memasukkan kemaluanku, maju mundur. KUjilati tubuh Bi Irah, termasuk ketiaknya yang berbulu cukup, mungkin belum dicukur. Tapi itu bukan halangan bagiku menikmati tubuhnya. Malah mebuatku bergairah.
"Tam kita keluarnya di air ya ... " pinta Bi Irah
Aku mengangguk lalu kami mencebur kembali.
Kalii ini aku jongkok di dalam air dan kujilati vagina Bi iIrah. Ya ampun, begitu gurihnya. Pernah merasakan menjilati kemaluan wanita kan?
Kumainkan lidahku, karena tersengal bi Irah kembali duduk di pinggir kolam. Dan aku meneruskan menjilati sampai Bi Irah hampir orgasme. Saat itulah aku dan Bii Irah menghendikan aktivitas, mencebur ke kolam dan meneruskan pertemuan Mr. P dan Ms. V di kolam ... Kami pacu, pacu dengan engah, sengal, rintihan nikmat, dan merem melek. Akhirnya, kamipun mencapai puncak. Keluar bersamaan memenuhi kolam ...
Aku peluk Bi Irah. Aku berterima kasih telah berhasil mewujudkan mimpiku bisa menggaulinya.
Sayup[sayup terdengar langkah kaki, aku segera lari ke balik pohon di mana aku meletakkan pakaianku. Sementara Bi Irah malanjutkan mandi dan segera berkemas, saat Bi Anah datang. Tidak jadi mencuci pakaian Bi Irah ini, lalu nyeloyor pergi. Aku menyelinap balik ke rumahku dengan hati bahagia.

---
Setelah itu, kami masih berhubungan, kucari waktu sepi, di rumahnya, atau rumahku. Sampai aku harus pindah karena harus meneruskan pendidikan. Bagiku ini takkan kulupakan. Entah bagi Bi Irah, yang kabarnya kini sudah menikah kembali dan dikaruniai anak. Aku masih sering membayangkan tubuhnya yang padat, montok.

Sekian ....